Wednesday, November 11, 2015

Book Review: Above the Stars by D. Wijaya

Penulis: D. Wijaya
Penerbit: Ice Cube, KPG
Tebal: 248
Format: Paperback
Terbit: Juni, 2015
Harga: Rp38.400 (BukaBuku)
Rating: 3½ / 5 stars

Date started: 15 Oktober, 2015 - Date finished: 17 Oktober, 2015

Sinopsis:
Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

Danny menggeleng.

Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?

Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.
Review:
Danny Jameson terlahir tidak bisa melihat sejak dulu sehingga dia harus bergantung kepada tongkatnya yang membantunya berjalan, orang tua, dan sahabatnya, Mia yang membantu Danny menjalani hidupnya selama ini. Karena disabilitas yang dimiliki Danny, saat di kelas untuk belajar dia harus mengetik perkataan gurunya di mesin tik Braille miliknya. Seringkali dia menjadi sasaran para bully di sekolahnya dan setiap kali Danny diserang para bully tersebut selalu ada Mia, temannya yang protektif dan galak apabila ada yang berani mengganggu Danny.

Suatu hari, anak baru datang dan masuk ke kelas Danny dan Mia. Namanya William Anderson, baginya hidup cuma sekali maka dari itu harus dinikmati. Awalnya Will tidak tahu kalau Danny tidak dapat melihat, tetapi setelah tahu Will mulai tertarik dengan kehidupan Danny bertahan hidup, Will ingin berteman dengan Danny, mengenalnya lebih jauh, walau harus rela menghadapi Mia, yang sangat protektif pada Danny, takut kalau Will hanya ingin menyakiti sahabatnya.

Sejak pertemuan pertama, Will selalu bersama dengan Danny dan Mia. Dalam lubuk hati Danny yang paling dalam dia selalu iri dengan orang-orang yang bisa melihat, yang bisa hidup bebas, berbeda dengan dirinya yang harus menghadapi kedua orang tua dan teman yang protektif. Kemudian Will pun menawarkan sebuah ide, dia meminta Danny untuk menyebutkan tiga keinginannya, yaitu: (1) ingin berlagak seperti orang biasa sehingga tidak ada yang menyadari kalau dia tidak dapat melihat, (2) pergi ke klub malam, dan (3) dicium seseorang.

Will ingin mengabulkan keinginan Danny. Tetapi, kenapa disaat Danny mulai yakin dan percaya diri akan dirinya sendiri William malah tiba-tiba menghilang? Padahal sejak William hadir, Danny merasa dirinya lebih menikmati hidup.
"Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada. Haya gelap."
"Itulah yang aku lihat," gumam Danny. "Itu yang aku lihat pertama kali di pagi hari, yang aku lihat sepanjang siang hari, dan yang aku lihat sebelum tidur di malam hari. Seperti punya bekas luka permanen, kau tahu. Bedanya, kalau bekas luka sungguhan, aku mungkin bisa melupakannya sewaktu-waktu. Kalau bekas luka yang ini, tidak bisa dilupakan. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau semua yang aku lihat sepanjang waktu cuma kegelapan?
Sebelum mengungkapkan perasaanku tentang buku ini aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kak D yang mengirimkan buku ini kepadaku melalui giveaway yang diadakan di blog kak Sulis. Sejak keluar lini YARN dari imprint KPG ini yaitu IceCube aku selalu penasaran seperti apasih buku-buku seri YARN ini, tetapi dari sekian banyaknya judul buku dari seri YARN yang ada aku paling penasaran dengan yang satu ini karena membaca beberapa review teman di Goodreads yang bagus-bagus. Untungnya, aku bisa memenangkan sebuah giveaway yang hadiahnya buku ini jadi rasa penasaranku terbayarkan.

Beberapa hal dari review teman-teman di Goodreads memang benar. Saat aku membaca buku ini memang terasa seperti membaca sebuah karya buku terjemahan, ada juga yang mengatakan adanya kemiripan buku ini dengan film berjudul Hoje Eu Quero Voltar Sozinho (The Way He Looks) aku sendiri belum pernah melihatnya jadi aku tidak bisa mengomentari masalah kemiripan cerita di buku ini dengan film tersebut.

Aku menyukai buku ini, menurutku ini merupakan bacaan yang ringan, mudah dibaca, dan saat dibaca sangat mengalir sehingga bisa diselesaikan dengan cepat. Tetapi, ada beberapa hal juga yang membuat diriku tidak bisa memberikan buku ini 4 atau bahkan 5 bintang. Inilah beberapa alasan yang menghambatku dari memberikan bintang lebih pada buku ini.
Nanti, saat aku pergi, aku tidak ingin menjadi bintang. Bintang pasti jatuh. Bintang pasti meledak. Aku ingin pergi ke suatu tempat di atas bintang-bintang. Agar aku bisa terus mengamatimu dari atas. Tanpa jatuh. Tanpa meledak.
Yang pertama, bagian-bagian seperti mengapa hubungan William dengan ayahnya tidak baik, bagaimana Mia bisa berteman dengan Danny, pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kita ingin tanyakan kepada Danny menurutku mungkin bisa diintegrasikan di dalam ceritanya. Aku tidak tahu apakah si penulis memang bertujuan untuk menuliskan formatnya seperti itu, seperti yang ada di dalam buku Negeri Van Oranje dimana penulisnya juga di dalam ceritanya sesekali menyisipkan tips-tips hidup di Belanda.

Yang kedua, aku kadang bingung membedakan dialog yang dikatakan oleh orang tua Danny dan ayah Will. Hal ini mungkin disebabkan oleh penggunaan nama Mr. Jameson, Mrs. Jameson, dan Mr. Anderson. Mungkin juga karena tidak terlalu ada deskripsi jelas yang membedakan karakteristik antara satu dengan lainnya jadinya aku kebingungan membedakannya. Mungkin ada yang merasakannya juga? Atau ini hanya perasaanku saja...

Yang ketiga, aku juga merasakan kesamaan antara cerita ini dengan buku favoritku sepanjang masa, yaitu The Fault in Our Stars. Aku tidak tahu apa orang lain juga merasakan hal yang sama tapi aku tidak bisa untuk tidak membandingkan buku ini dengan TFIOS dan sayangnya buku ini masih belum sampai di level TFIOS. Tetapi bukan berarti buku ini tidak bagus, this book is good in its own ways.

Penulisnya patut diberi acungan jempol karena ini adalah karya debutnya dan di karya debutnya ini dia sudah berani untuk masuk ke topik yang masih belum banyak di dunia perbukuan Indonesia, yaitu topik LGBT. Gaya penulisan D juga bagus, yang pastinya aku akan membaca karyanya yang selanjutnya jika ia mengeluarkan sebuah karya lagi. Terus berkarya ya kak D!

© books-over-all ©

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...