Thursday, December 17, 2015

Book Review: Orange by Windry Ramadhina

Judul: Orange
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 286
Format: Paperback
Terbit: Juni, 2008
Harga: out of stock (BukaBuku)
Rating: 3 / 5 stars

Date started: 14 Desember, 2015 - Date finished: 16 Desember, 2015

Sinopsis:
‘Dikuncinya pintu di belakangnya lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.

Ah, dirinya kesal setengah mati.’

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.

Pertanyaannya: apa... dan siapa?
Review:
Berkisah tentang perjodohan antara Fayrani Muid dengan Diyan Adnan. Dua orang yang terlahir dari dua keluarga yang sangat kaya raya dan namanya dikenal di kalangan media dan orang awam. Fayrani Muid, dipanggil Faye adalah anak satu-satunya keluarga Muid yang memiliki kekayaannya dari bidang properti. Tetapi, Faye sendiri tidak berniat untuk menjadi penerus bisnis keluarganya, dia malah menjadi seorang fotografer yang cukup mahir sampai bisa bekerja di studio Erod Martin yang merupakan studio foto ternama di Jakarta.

Diyan Adnan sendiri adalah anak pertama dari keluarga Adnan yang juga jumlah kekayaan sama atau bahkan lebih dari keluarga Muid. Diyan adalah CEO dari perusahaan keluarga Adnan, konon dia mengakuisisi Senayan City saat makan siang sembari memesan lasagna. Selain itu, Diyan itu "the most wanted bachelor" di Jakarta, tidak ada cewek yang bisa menolak Diyan Adnan. Oh ya, Diyan memiliki adik bernama Zaki Adnan yang sama seperti Faye ingin berjauh-jauh dari bisnis keluarganya, dia bekerja di sebuah advertising agency yang ia bangun bersama dengan beberapa temannya.

Kedua orang tua Diyan dan Faye berteman dengan baik, suatu saat mereka memutuskan untuk menjodohkan Diyan dengan Faye. Mereka berdua setuju-setuju saja dengan perjodohan ini karena Faye tidak ingin mengecewakan mamanya sedangkan Diyan mengerti bahwa perjodohan ini adalah sepenuhnya transaksi bisnis yang nantinya juga pasti akan menguntungkan bisnis keluarga Adnan.

Karena tidak saling kenal pertemuan awal-awal mereka sangat kaku, penuh dengan basa-basi, terkesan hanya untuk formalitas saja supaya tidak terlihat "asing" saat mereka bertunangan nanti. Setelah mereka bertunangan Faye dan Diyan "tidur" bersama dan dari situlah Faye mulai menyimpan perasaan untuk Diyan. Tetapi, Diyan sendiri sebenarnya masih belum melupakan mantannya, Rera—seorang model yang cukup sukses di Paris dan sedang melaksanakan tur di Jakarta. Ditambah lagi kehadiran Zaki yang setelah melihat foto-foto karya Faye dan mengenal Faye lebih jauh juga mulai memiliki perasaan untuk Faye.
“Lucu, terkadang manusia tidak menyadari apa yang sesungguhnya mereka inginkan sebelum benar-benar kehilangan.”
Akhirnya bisa membaca sebuah karya tulisan Windry Ramadhina yang sepertinya sudah dielu-elukan oleh banyak orang. Kebetulan sekali bisa membaca karya debut-nya, terima kasih sekali buat Jenny yang mau memberikan buku ini padaku secara cuma-cuma! HAHA. Yah memang tulisan Windry mengalir, mudah dicerna, dan sangat amat enjoyable. Karena memang novel debut jadi wajar-wajar saja pastinya jika terdapat beberapa kesalahan, bisa dimaklumi lah (semoga saja sudah dibetulkan di edisi repackaged-nya). Banyak yang bilang buku-buku lainnya lebih bagus lagi.
“Saat kita sudah lebih dewasa, saat ambisi dan harga diri tidak ada lagi di antara kita, apakah kita bisa kembali bersama?”
Tema cerita yang diambil sendiri tergolong simple, tentang perjodohan. Udah lumayan banyak lah di peredaran novel romance di Indonesia. Tetapi entah mengapa buku ini cukup menarik bagiku sehingga bisa mendorongku untuk menyelesaikannya. Menurutku, kekuatan Windry terletak di kepiawaiannya membuat karakter. Bagiku semua karakter di buku ini mudah untuk dibedakan satu sama lain, tidak ada kebingungan sesaat pun waktu aku membacanya (bagi yang sudah membaca mungkin bisa setuju karena memang ada banyak sekali karakter yang diperkenalkan di buku ini). Dari karakter utama seperti Faye dan Diyan hingga yang kurang terlalu penting seperti Victor maupun Adam.

Oh ya bagiku, personally, untuk buku yang berjudul Orange aku merasa kurang puas dengan asosiasi buah jeruk di dalam cerita ini yang hanya dijelaskan sebagai hal favorit si Faye karena itu bittersweet seperti kehidupan. Memang setelah dipikir-pikir kalau sudah membaca buku ini ceritanya emang bisa dibilang bittersweet sih, tapi tidak semua bagian ceritanya juga sih. Mungkin aku aja kali ya yang banyak mau, tapi ya begitulah menurutku.
"Jeruk itu seperti hidup. Bittersweet."
Despite of all of my comments, buku ini emang sangat mudah dinikmati tapi sayangnya ngga bisa sampai memikat hatiku untuk mencintai bukunya dan juga tidak menyebabkan terjadi kemunculan perasaan-perasaan spesial terhadap buku ini. All and all an enjoyable romance book nonetheless!

© books-over-all ©

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...